PACARAN DITINJAU SECARA YURIDIS ISLAM

Tidak bisa dipungkiri oleh siapapun bahwa benih-benih cinta pasti adanya dan tertanam dalam diri setiap manusia, dimana suatu saat ia akan tumbuh dan berkembang tatkala bertemu dengan pasangan yang dianggap cocok dan edial. Islam tidak melarang untuk mencintai dan dicintai, karena cinta itu bersifat dhoruri (Naluri/diluar jangkauan manusia), sehingga dianggap wajar dan sangat normal seandainya ada sepasang remaja yang sedang kasmaran dan saling tertarik, dan bahkan cinta merupakan anugrah yang begitu besar yang harus disyukuri. Allah berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ ِ .
Artinya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita.” (Ali Imran : 14).

Islam dengan cakupan hukum yang begitu luas jauh-jauh hari sudah mengkonsep segala sesuatu yang terkait dengan kelangsungan hidup manusia, tidak terkecuali hubungan antara sepasang remaja yang dirundung asmara, dimana dalam islam hal ini dikenal dengan sebutan khitbah. Sedangkan istilah pacaran tidak pernah dikenal dalam islam dan bahkan tidak pernah ada, haya saja sering kita mendengar dari sebagian kalangan bahwa pacaran diartikan perkenalan atau lebih jelasnya adalah sebuah media untuk saling mengenal karakter satu sama lainnya, menyamakan pandangan hidup dan lain sebagainya. Disadari atau tidak selama ini kita beranggapan bahwa pacaran sebagai salah satu metode jitu untuk melakukan pendekatan agar mengenal masing-masing pasangannya lebih jauh. Namun kenyataannya tujuan itu jarang yang tercapai. Karena realita berbicara melakukan pendekatan semacam ini, yang terjadi bukan kedekatan hubungan yang murni justru kedekatan yang terkontaminasi dengan banyaknya bentuk kemaksiatan.

Sedangkan aktifitas pacaran itu yang terjadi dimasyarakat identik dengan apel malam minggu, nonton bioskop bareng, naik sepeda motor bareng, jalan-jalan berduaan, saling ngirim SMS, nilpon siang dan malam dan semua aktifitas lain yang mengasyikkan, dimana semua itu Intinya adalah kebersamaan dan berduaan. Dan terkait dengan ini Islam sudah memperingatkan bagi laki-laki dan wanita yang bukan mahram untuk tidak menyepi berduaan (khulwat), karena yang ketiganya adalah setan. Nabi bersabda :

إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ .
Artinya : Nabi bersabda “jangan sekali-kali seorang bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad).

Sisi negatif pacaran

sekalipun cinta tidak dilarang oleh islam namun tidak sedikit seseorang yang salah dalam mengeksepresikan dan membina rasa cintanya, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dibuat pertimbangan apakah konsep pacaran itu layak dan sesuai dengan syara’ atau tidak, berikut diantaranya :
1. terjadinya khulwah (berduaan) yang mengakibatkan timbulnya hal-hal yang dilarang syariat seperti saling memandang, bersentuhan, bermesraan, ciuman dan sampai berhubungan intim diluar nikah (zina) Na’uu dubillah min dalik.
2. menghayal yang tidak berkesudahan, sehingga menjadi faktor terbelengkalainya kewajiban seperti ritual ibadah, belajar dan hal-hal positif lainnya.
3. istilah perkenalan yang sering dibuat dalih bagi orang-orang ingin melegalkan pacaran tidak terbukti secara nyata, karena yang namanya orang jatuh cinta jelas tidak mungkin untuk mengumbar hal-hal yang berpotensi akan terjadi keretakan diantara keduanya, dengan ini bagaimana mungkin perkenalan yang mereka gembor-gemborkan akan menjadi tumbuh dan subur sebagaimana yang mereka hayalkan. satu bukti kongkerit banyaknya muda mudi yang bergonta ganti pasangan dengan sebab yang tidak begitu perinsip dan tidak jelas yang terkesan hanya untuk kesenangan belaka dan membuang-buang waktu yang seharusnya diperuntukkan terhadap hal yang lebih penting.
konsep islam dalam mengatur hubungan sepasang remaja yang sedang jatuh cinta
sekali lagi kami tegaskan bahwa islam tidak mengenal istilan pacaran. Islam dalam kaitan menjalin hubungan dalam rangka menuju jenjang pernikahan, menciptakan sebuah konsep yakni khitbah dengan segala bentuk rangkaian dan pensyaratan sebagai berikut :
• Sudah berhaysrat.
• Calon suami mampu membayar mahar.
• Sanggup memberikan nafkah.

Lebih lanjut, tentang prosedur yang dibenarkan dalam tataran perakteknya adalah sebagai berikut :
a. Mengirimkan delegasi atau dia sendiri untuk menyelidiki masing-masing pasangan dengan syarat delegasi tersebut adil,dapat dipercaya dan satu mahrom atau satu jenis dengan calon yang diselidiki, dan jika diasendiri yang menyelidiki maka pihak prempuan harus ditemani keluarga supaya tidak terjadi khulwah dan fitnah.
b. Bagi laki-laki boleh memandang calonnya namun hanya sebatas wajah dan telapak tangannya saja, karena rahasia-rahasia fisik dan keperibadiannya sudah bisa diketahui melalui aura wajah dan telapak tangan.
c. Tidak ada keraguan atau persangkaan akan ditolak lamarannya.

Secara mendasar tiga poin diatas sudah mencukupi sebagai modal utama untuk menyeleksi pasangan hidup yang edial, namun untuk lebih sempurnanya bagi orang akan tunangan dalam rangka menuju jenjang pernikahan diantaranya dianjurkan untuk mencari pasangan dari keturunan atau nasab yang baik, karena dengan baiknya keturunan insya allah pasangan yang anda pilih sesuai dengan apa yang anda harapkan. Seperti kata pepatah “buah mangga yang jatuh tidak mungkin jauh dari pohonnya”. Ibnu al-Jauzi mengatakan “ada beberapa cara untuk mengetahui calon pasangan diantaranya sebagai berikut :
 Mata, mulut, telapak tangan dan wajah menunjukkan rahasia bagian fisik.
 Untuk mengetahui keperibadian pasangan ada dua mudel, pertama bisa ditanyakan dan dikonsultasikan kepada orang-orang sholeh. Kedua Berinteraksi langsung dengan pasangannya namun disertai dengan mahrom.

Lebih dari itu, kiranya perlu digaris bawahi bahwa dalam konsep khitbah hanya sebagai tahap awal untuk saling mengenali, maka legalitas kedekatan hubungan dalam konsep ini tidak sampai mengarah pada hubungan yang lebih intim layaknya suami isteri, artinya hanya sebatas tunangan saja tidak lebih sehingga setatus perempuan tersebut masih tergolong Ajnabiy (orang lain). Kendati demkian adanya, bagi yang bertunangan jika ingin bertemu dan berbincang-bincang dengan tungannya maka diperbolehkan asalkan pihak perempuan didampingi pihak keluarga seperti bapaknya, saudara dan lainnya. Demikian ini supaya terhindar dari terjadinya khulwah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa islam dalam mengatur sepasang remaja yang sedang jatuh cinta tidak bebas mengumbar rasa cintanya tampa batas, artinya ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan, sedangkan pacaran tidak menganal rambu-rambu tersebut, disilah letak perbedaan antara konsep khitbah dengan pacaran.

PROBLEMATIKA YANG TAK TERHAPUSKAN

Islam memang agama yang pesat perkembangan keilmuanya, dari abad ke abad, masa ke masa akan tumbuh terus sampai entah kapan ujungnya. Dan itu memang sudah di gariskan oleh sang maha pencipta alam semesta. Namun akhir-akhir ini sebagian beswar hamba-hambaNya telah lupa dan melalaikan tugas-tugas syari’at yamg mereka harus patuh dan melaksanakan. Seperti halnya masalah jilbab, mungkin kita sudah mendengar berapa ratus kajian, baik berupa tulisan, dialog yang membahas tentang hal itu namun berapa persen yang menutupi aurat menurut syari’at di negeri kita ini.

JILBAB

Sudah kita ma’lumi dan kita harus meyakini adanya kewajiban menutup Aurat, sejarah telah berbicara, bahwa pada masa sebelum turunya ayat Hijab (menutup aurat), seorang perempuan begitu leluasa membuka keindahan tubuhnya, yang sehingga dengan leluasa pula kaum munafiqin mengganggungya di saat kaum wanita keluar ke pasar. Allah SWT. Sudah menggariskan dalam kitab sucinya :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”. ( QS. An Nur 30-31)

Sebelum kita mengkaji kandungan ayat yang mewajibkan wanita untuk memakai jilbab, alangkah baiknya kita perhatikan ayat yang pertama disebutkan adalah perintah menahan pandangan terlebih dahulu, sementara menjaga kemaluan disebutkan setelahnya, hal ini mengandung hikmah, bahwa dengan memandang akan ada keinginan untuk berzina dan berbuat mesum. Maka jelas sudah kunci dari perbuatan perbuatan itu di awali dengan memandang.

Ungkapan perhiasan dalam percakapan sehari-hari bisa mencakup gelang, kalung, anting, perhiasan di dada dan lain lain. akan tetapi para mufasirin menafsiri kata perhiasan adalah anggota tubuh yang dijadikan melekatnya perhiasan yang dipakai wanita, seperti kepala, telinga, leher, dada, lengan dan betis. Semuanya wajib untuk ditutupi kecuali anggota tubuh yang kebiasaannya dibiarkan terlihat seperti dua telapak tangan dan wajah. Dua anggota itu boleh untuk tidak ditutupi. Dengan catatan tidak menimbulkan fitnah. Bahkan imam Abu hanifah menambahkan kedua telapak kaki. Dari pemaparan tersebut jelaslah sudah, bahwasanya kewajiban menutup aurat (jilbab) bukan dilatar belakangi dari kebudayaan akan tetapi langsung dari tuhan yang maha Esa lewat kitab sucinya.

Pada dasarnya konsep hijab mengandung tiga dimensi. Pertama, adalah dimensi visual yakni bersembunyi dari pengelihatan, dan ini adalah makna asal yang diambil dari kata hajaba yang berarti “bersembunyi”. Kedua, dimensi tempat atau special, yaitu memisahkan atau memberi batas. Dan yang ketiga, etika yaitu terkait dengan masalah pelarangan .

I. BATASAN JILBAB

Busana dipakai wanita yang ada pada kalangan umum mengalami kemunduran dalam segi moral. Lihat saja pada pakaian wanita terhormat dan sopan dipertengahan abad, mereka mengenakan pakaian yang dipakai wanita wanita kelas bawah atau tidak sopan. Sedangkan pakaian pada abad sekarang, memakai pakaian yang pada abad pertengahan dianggap kurang sopan. Dan itu berlanjut sampai mereka tidak segan segan membuka kedua lengan dan sedikit bagian dadanya, mungkin untuk tahun tahun berikutnya mereka akan membuka bagian bagian tubuh yang sekarang masih tertutup.

Memang Al qur’an tidak menyebutkan batasan jilbab ( pakaian islami ) secara spesifik. Oleh karena itu seorang muslimah diberi kebebasan untuk memilih jenis pakaian yang disukai. Namun dengan catatan harus sesuai dengan apa yang digariskan syara’. Diantaranya :

1. Busana yang bisa menutupi seluruh tubuh kecuali yang diperbolehkan untuk di tampakan. Ibnu Abas menafsiri anggota yang boleh ditampakan adalah wajah, sibak kedua mata, pacar tangan dan cincin. Dalam ayat yang memerintah menutupi anggota, itu sekitar leher saja. Padahal yang wajib ditutupi adalah seluruh tubuh. Dilihat dari kondisi masyarakat jahiliah sebelum diturunkan perintah hijab, anggota tubuh yang belum tertutupi adalah sekitar leher saja.
2. Busana tidak ketat, tipis dan tembus pandang. Abi hurairoh menjelaskan masalah pakaian tipis dan menyebutkan hadits

عن أبي هريرة قال صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( صِنْفَانِ مِنْ أَهْل النَّار لَمْ أَرَهُمَا : قَوْم مَعَهُمْ سِيَاط كَأَذْنَابِ الْبَقَر يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاس ، وَنِسَاء كَاسِيَات عَارِيَات مُمِيلَات مَائِلَات رُءُوسهنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْت الْمَائِلَة لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّة وَلَا يَجِدْنَ رِيحهَا ، وَإِنَّ رِيحهَا تُوجَد مِنْ مَسِيرَة كَذَا وَكَذَا) رواه مسلم
Artinya: “Dari Abi Hurairah, “Rosululloh SAW. Bersabda : Dua golongan dari penghuni neraka yang tidak saya lihat , satu diantaranya adalah : segolongan komunitas yang mencambuki masyarakat yang cambuknya seperti ekornya sapi. Kedua Para Wanita berpakaian ( tetapi ) telanjang, yang terbujuk dan membujuk orang lain dengan rambut terangkat seperti bagian ats leher unta unta. Mereka tidak akan masuk surga dan tak menemukan baunya, dan sesungguhnya bau surga bisa ditemukan dengn menempuh perjalanan satu tempat ke tempat yang lain.” (H.R. Muslim).

beberapa ulama menafsiri hadits itu dengan berbeda pandangan diantaranya :
 Wanita wanita yng memakai pakaian kecil yang tidak menutupi anggota badan yang wajib ditutupi ( aurat ).
 Wanita wanita yang memakai pakaian tipis dan kulitnya masih terlihat dari luar.
 Wanita wanita yang memakai pakaian ketat dan lekuk tubuh terlihat. Walaupun sudah menutupi aurot, akan tetapi bisa mengundang fitnah.
Begitu juga ketika ‘Aisyah r.a. ditamui wanita wanita Bani tamim, mereka mengenakan baju tipis. Kemudian beliau berkata “ kalau kalian wanita muslimat, maka pakaian ini bukanlah pakaian wanita muslimat”. Dan suatu ketika juga seorang wanita berkunjung ke rumah ‘Aisyah dengan mengenakan kerudung dari daerah Qibti yang diwanter. Kemudian beliau berkata “ tidaklah mempercayai surat an nuur seorang wanita yang memakai kerudung ini”.
3. Berpakaian tidak seperti wanita kafir atau laki laki yang sudah menjadi ciri khas mereka. Rosulluloh melaknati wanita yang berpakaian seperti laki laki juga sebaliknya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Abas

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنْ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنْ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ . رواه البخاري
Artinya: “Rosululloh melaknati laki laki yang menyerupai wanita dan wanita wanita yang menyerupai laki laki .
4. Pakaian atau badan tidak diberi wewangian yang sampai mengundang fitnah. Rosululloh bersabda “ setiap pandangan ( yang harom ) penuh dosa. Dan setiap wanita yang memakai wewangian lalu berjalan melewati orang orang sehingga mereka mencium wanginya, adalah dosa. ( H.R.Tirmidzi).

II. KEUTAMAAN JILBAB

Memakai jilbab sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang, apabila Allah SWT sudah memberinya hidayah, maka seorang wanita akan merasa mudah memakainya tanpa ada paksaan dari siapa pun. Diantara keutamaan jilbab yang terpenting yang kami ambil dari pendapatnya Muhamad Musthofa Abdulloh Al Khotib sebagai berikut :

1. Jilbab adalah penutup wanita dari mata mata orang yang iri, apalagi bila Allah SWT memberinya paras cantik dan tubuh bagus.
2. Jilbab membantu wanita untuk menjalankan perintah alloh. Dalam artian dia telah menjahui larangan Allah yang berupa membuka aurot didepan orang lain.
3. Jilbab membuat wanita menjadi mulia, kalau memang diperlihatkan hanya pada suaminya saja. Karena wanita bukanlah barang dagangan yang seeanaknya dilihat oleh siapa saja yang mau beli.
4. Jilbab mampu mengangkat wanita sampai derajat hurotul ‘ain (bidadari) sebagaimana alloh mensifatinya pada surat Ar rohman ayat 56.

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ .
Artinya: “Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.”(S.Q.Ar-rohman:56)

5. Jilbab menjaga wanita dari buasnya mata laki laki yang mencari mangsa, jilbab juga sebagai tamparan pada wajah orang fasiq yang curi curi pandang untuk mengetahui kecantikan sang pemilik jilbab dan berusaha memasang jaring jaringnya demi mendapatkan kemuliaan sang pemilik jilbab. Selain itu jilbab sebagai tameng dari panah panah pandangan mata seorang laki-laki.
6. Jilbab ibarat mendung hitam yang membawa keberkahan dan hujan. Apabila awan dicerai beraikan, maka tidak ada keberkahan dan hujan.
7. Jilbab memberi pemiliknya kebebasan tersenyum, karena ketika dia bercannda gurau dengan teman wanitanya, maka jilbablah yang menutupi dari pengelihatan orang lain.
8. Jilbab sebagai tanda bahwa pemiliknya adalah orang baik baik.
9. Jilbab melindungi dari kecelakaan pemiliknya, terjerat jaring jaring syaithon dan jatuh dari jurang kemaksiatan yang dalam.
10. Jilbab adalah perhiasan yang mempersatukan wanita wanita muslimah dunia.
11. Jilbab diibaratkan pintu yang dikunci untuk menuju alloh, tidak ada seorang pun yang bisa masuk kedalam apalagi berusaha merusaknya.
12. Jilbab adalah penutup segala kejelekan wanita yang pernah dilakukannya.
13. Jilbab adalah sesuatu yang disyariatkan. Tidak ada orang yang berhak melarang wanita untuk melepas jilbabnya walaupun orang tua dan suaminya.
14. Jilbab adalah motifasi dari kesedihan kehidupan.

III. DAMPAK NEGATIV MENINGGALKAN JILBAB

1. Dari segi agama

Pertama, membuat fitnah ( celaka ) pada dirinya sendiri. Dengan cara memperlihatkan kecantikan wajah atau keseksian tubuh, tidak disadari telah membuat celaka pada dirinya. Terbukti di Amerika sendiri, tercatat di sana, satu dari tiga gadis yang berumur di atas 14 tahun menjadi korban tindak pemerkosaan. .

Kedua, menghilangkan sifat malu dan fitrahnya. Malu merupakan sebagian dari iman. Imam An Nawawi berkata “Syahwat wanita lebih kuat dan akalnya lebih ringan” hanya saja syahwat itu ditutupi dengan sifat pemalunya. Seandainya rasa malu sudah menjadi suatu hal yang dianggap tidak penting bagi perempuan, maka bisa dibayangkan akan seperti apa yang akan terjadi.

Ketiga, membuat celaka pada laki laki. Perlakuan laki laki yang tidak seronok atau amoral sepenuhnya tidak dari laki laki saja, pihak wanita pun menjadi pemicu laki laki untuk berbuat demikian. Apalagi wanitanya cantik. Maka seorang laki laki akan berusaha mencari muka, mengajak ngobrol dan senda gurau. Benar kata pujangga yang mengatakan “melihat, memberi salam, berbincang bincang, janjian dan mengadakan pertemua”. Itulah yang terjadi dimasa ini. Banyak sekali dengan berbincang bincang dan senda gurau laki laki menggantungkan hatinya pada wanita begitu pula sebaliknya.

2. Dari segi sosial

Pertama, membuat petaka di jalan jalan. Yang demikian terbukti hasil laporan yang disampaikan oleh kepolisian lalu lintas di salah satu daerah. Bahwa wanita yang berpakaian terbuka atau berpenampilan yang mampu mengundang perhatian banyak orang, telah menyebabkan beberapa kecelakaan lalulintas dan tabrakan di jalan jalan. Apabila hal itu dibiarkan saja, maka harus berapa banyak lagi korban korban lalulintas yang meninggal dengan sia sia. Oleh karena itu pihak yang bertanggungjawab harus mencari solusi dengan melarang wanita memakai pakaian terbuka berjalan di pinggiran jalan. Karena seorang sopir terengah engah ketika melihat keindahan tubuh wanita yang berada di pinggiran jalan. Maka, dia kehilangan keseimbangan dalam mengendarai kendaraannya .

Kedua, mengurangi kwalitas kerja. Seorang wanita yang berpakaian terbuka, memakai perhiasan dan berjalan di depan atau berkumpul dengan karyawan karyawan yang sibuk dengan pekerjaannya itu Mampu mengundang perhatian mereka. Dengan dibuktikan oleh salah satu badan usaha di Inggris, yang mengeluarkan peraturan larangan bagi karyawatinya mengenakan busana yang mengganggu kosentrasi karyawan dalam bekerja. Sebab mereka sangat menikmati keindahan tubuh seorang daripada melakukan pekerjaannya .

Ketiga, dilecehkan dan tidak diberlakukan adil. Sering kita temui seorang wanita yang berdialog dengan laki laki karena ada permasalahan yang harus selesaikan. Ditengah tengah dialognya terkadang laki laki memperhatikan rambut, tangan bahkan leher seorang wanita, tanpa memperhatikan apa yang dipaparkannya. Apakah itu bukan bentuk pelecehan atau tidak keadilan? Atau dalam sebuah perusahaan yang membutuhkan tenaga wanita. Terkadang Tim penyeleksi karyawati tidak memperhatikan atau meneliti berkas berkas yang dibawanya. Tetapi justru mereka asyik menikmati keindahan bentuk tubuh, bahkan mereka mengukur seberapa cantiknya, postur tubuhnya, dan daya pikatnya. Tanpa mempertimbangkan keahlian dan skill yang dimilikinya.

Semoga dengan adanya kajian ini hati kita terketuk untuk menjalankan sedikit demi sedikit Syari’at yang dibawa nabi SAW , yang kita mintai pertolongan kelak di hari akhir, karena hanya beliaulah yang menjadi tameng dari panasnya api neraka, maka dari itu kalau kita ingin selamat dari neraka dan ancaman Allah SWT marilah sama-sama melaksanakan Syari’at beliau dan berdo’a, penuh kesabaran serta pasrah Insyaallah Tuhan yang maha pengasih akan membantu kita. Amin.